Tahukah kamu jika pada tahun 2023 lalu angka ekspor minuman beralkohol lokal mencatatkan angka US$ 14,1 juta, sedangkan angka impor minuman beralkohol menyentuh angka US$ 27,1 juta. Pertanyaanya apakah ini bisa jadi angin segar bagi industri minuman beralkohol lokal?
Jawabannya sangat bisa! Apalagi jika melihat minat yang besar dari konsumen luar negeri yang ternyata menyukai keragaman komoditas minuman beralkohol buatan lokal.
Jika kamu penasaran bagaimana peluang ini bisa dimaksimalkan oleh industri minuman beralkohol lokal, yuk simak pembahasan mendalam dari Balimoon di bawah ini.
Ternyata Ini yang Konsumen Luar Negeri Sukai
Dari data ekspor minuman beralkohol lokal tahun 2023 terdapat beberapa negara yang menunjukkan minat pada produk-produk minuman beralkohol lokal, antara lain: Malaysia, Thailand, Singapura, Rusia, China, Australia, Timor Leste, Belanda, Kenya, dan Jepang.
Nama-nama di atas dapat kita lihat beberapa negara memiliki industri minuman beralkohol yang kuat atau malah dapat disebut menjadi bagian dari kultur negara seperti Sake dari Jepang dan Vodka dari Rusia.
Gambaran kondisi yang ada bisa dikatakan jika komoditas minuman beralkohol lokal Indonesia memiliki pemosisian yang cukup baik di industri minuman beralkohol negara tersebut.
Lebih spesifik dijelaskan dari bahwa minuman beralkohol lokal yang paling disukai adalah minuman beralkohol golongan A yaitu minuman dengan kandungan alkohol di bawah 5% yang menyumbang US$ 8,5 juta pendapatan negara.
Dari pencapaian ini terdapat pekerjaan rumah yang harus industri minuman beralkohol lokal dan pemerintah pecahkan bersama yaitu bagaimana caranya mempertahankan tren positif ini dengan memperbesar angka yang sudah tercapai?
Strategi Pengembangan Produk Minuman Beralkohol Lokal
Untuk menjawab tantangan dari pencapaian yang dijelaskan di atas maka industri minuman beralkohol lokal harus berpikir secara strategis dan komunal, karena kondisi ini bukan lagi berbicara tentang persaingan di dalam negeri.
Maka dari itu pergerakan yang dilakukan haruslah satu suara dengan memadukan data ekspor dan kekuatan masing-masing produsen yang produknya bisa dikembangkan lagi dan bisa lebih relevan dengan pasar.
Nah berikut adalah strategi pengembangan produk minuman beralkohol lokal yang bisa diaplikasikan:
1. Identifikasi dan Segmentasi Target Pasar
– Lakukan riset mendalam mengenai usia, gaya hidup, preferensi rasa, daya beli, dan kebiasaan konsumsi dari negara dengan tingkat konsumsi minuman beralkohol lokal yang tinggi.
– Contoh: pasar generasi Z cenderung menyukai minuman ringan dengan rasa buah yang mudah dibawa ke mana-mana.
2. Analisis Tren dan Kompetitor
– Pantau secara terus-menerus tren global seperti low-alcohol drinks dan infused spirits.
– Pelajari kekuatan dan kelemahan kompetitor dalam melihat tren ini untuk menemukan celah inovasi.
3. Inovasi Produk Berdasarkan Insight Konsumen
– Lakukan testing kombinasi varian rasa dengan bahan lokal seperti rempah Indonesia dan buah tropis untuk menciptakan diferensiasi, karena dengan keunikan yang kita miliki sudah seharusnya produk buatan Indonesia memiliki keunikan tersendiri.
– Sesuaikan kadar preferensi alkohol, rasa, dan kemasan dengan data yang menyatakan kelebihan produk minuman beralkohol lokal.
4. Pengembangan Branding dan Storytelling
– Bangun narasi yang kuat agar positioning di target pasar semakin solid.
– Gunakan elemen kultural untuk membentuk identitas merek yang kuat.
5. Uji Pasar dan Validasi Produk
– Lakukan focus group untuk menguji respons pasar terhadap produk inovasi yang sudah dipasarkan.
– Gunakan ulasan tersebut untuk menyempurnakan produk sebelum peluncuran selanjutnya.
Presentasikan Kinerja Untuk Mendapat Dukungan Lebih
Pada data yang diterbitkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) selain menjelaskan angka ekspor yang mengesankan ternyata dijelaskan juga angka impor yang mengkhawatirkan yang mana jumlahnya menyentuh US$ 27,1 juta.
Kenapa mengkhawatirkan? Karena angka pendapatan impor jauh lebih besar dari ekspor yang berarti ada kondisi di mana produsen minuman beralkohol lokal harus bersaing secara keras dengan produk-produk luar negeri di pasar dalam negeri.
Dengan angka pendapatan ekspor yang ada tidak berlebihan jika produsen minuman beralkohol lokal pantas untuk mendapat dukungan lebih dari pemerintah dengan cara mulai membatasi aktivitas impor minuman beralkohol.
Hal itu berguna untuk memperbesar peluang produsen lokal untuk berjaya di “rumah sendiri” agar bisa menstabilkan neraca keuangan antara penjualan ke dalam negeri dan luar negeri.
Maka dari itu setiap aktivitas yang dilakukan untuk meningkatkan angka yang sudah bagus tapi memang sudah seharusnya selalu ditunjukkan kepada pemerintah agar di kemudian hari bisa mendapatkan dukungan yang lebih menguntungkan untuk produsen minuman beralkohol lokal.