Kita perlu akui bagaimana cara kita memandang minuman beralkohol memang sudah disetir oleh negara barat, mulai dari acara televisi, film, hingga sekarang yang terbaru melalui konten media sosial.
Jika begitu terus lantas siapa yang akan meneruskan budaya minum minuman beralkohol lokal yang sarat akan nilai budaya dan bukan sekedar konsumsi saja?
Pertanyaan yang sulit dijawab dengan singkat. Karena langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan membuat minuman beralkohol lokal jadi relevan bukan hanya bagi orang yang mengkonsumsinya secara reguler melainkan juga secara luas.
Ingin tahu caranya? Mudah kok, cukup ikuti simak tulisan tentang cara meningkatkan kualitas minuman beralkohol lokal menjadi premium yang eksklusif dibahas oleh Balimoon.
Mengenal Budaya Minum Minuman Beralkohol Lokal
Perlu diakui jika eksistensi minuman beralkohol lokal ini seperti pisau bermata dua, karena bagi pengonsumsinya minuman beralkohol lokal sudah jadi bagian dari kehidupan itu sendiri.
Ingin buktinya? Lihat saja bagaimana masyarakat Bali menjadikan Arak sebagai hari besar, atau tanyakan bagaimana masyarakat Batak menghabiskan waktu tiap sore bareng Tuak, dan jangan lupakan Ciu yang juga berfungsi sebagai mata pencaharian bagi masyarakat Jawa bagian tengah dan timur.
Namun seberpengaruh apapun minuman beralkohol lokal tetap saja ada perspektif yang menganggap jika minuman beralkohol tidak layak dikonsumsi karena kentalnya budaya timur di Indonesia.
Jadi terdapat dua magnet pengaruh besar yang meliputi dunia minuman beralkohol lokal, satu dari hegemoni budaya barat, satunya lagi datang dari budaya timur yang sarat akan nilai etika dan ajaran agama.
Sayangnya di lapangan agaknya nasib mujur malah dialami oleh minuman beralkohol impor, bagaimana tidak per 2023 impor minuman alkohol dari luar negeri menyentuh angka US$ 27,1 juta, yang mana ini menggambarkan bahwa pasar minuman beralkohol di Indonesia sangat seksi, yang sayangnya malah menghadirkan persaingan yang kurang imbang.
Maka dari itu harus ada upaya generalisasi pengetahuan tentang khasiat dan nilai yang dimiliki oleh minuman beralkohol lokal yang juga setara dengan produk impor, dengan cara yang akan dijelaskan di bawah ini.
Minuman Beralkohol Lokal Itu Serbaguna
Keserbagunaan minuman beralkohol lokal itu tak perlu diragukan, contoh yang kami beritahu tadi hanya segelintir cara orang Indonesia menikmatinya.
Pasalnya tidak sedikit modifikasi yang dilakukan dalam mengkonsumsinya, kita akan ambil contoh Tuak. Minuman yang terbuat dari nira kelapa atau aren ini bukan sekedar dikonsumsi di acara formal seperti pernikahan dan acara adat seperti saat mangulosi, ia juga dikonsumsi untuk menghabiskan waktu bersantai ditemani dengan tambul (food pairing) atau biasa dikenal dengan kegiatan tusor (tuak sore).
Melangkah agak jauh ke Bali terdapat Arak yang bukan hanya terkenal sebagai minuman yang dikonsumsi saat upacara Ngaben, tapi juga digunakan sebagai campuran masakan yang dapat memberi aroma dan cita rasa yang khas.
Nah terbukti bukan jika minuman beralkohol lokal memiliki sifat konsumsi yang serbaguna, bukan tidak mungkin keserbagunaan ini bisa dieksplorasi mendekati cara konsumsi minuman beralkohol impor.
Cara Meningkatkan Kualitas Minuman Beralkohol Lokal Menjadi Premium
Untuk mengangkat minuman beralkohol lokal Indonesia ke level premium yang setara dengan produk impor pendekatan yang harus dilakukan setidaknya menyentuh tiga dimensi utama yaitu:: produk, pengalaman, dan narasi budaya. Berikut cara yang bisa diterapkan:
Refinement Produk: Kualitas dan Konsistensi
- Standarisasi bahan baku: Gunakan nira, beras, atau buah lokal terbaik dari terroir tertentu (misalnya nira dari Minahasa atau beras ketan dari Bali).
- Fermentasi dan destilasi presisi: Terapkan teknik modern seperti fermentasi suhu rendah, distilasi bertahap, dan aging dalam kayu eksotis (misalnya cendana atau jati).
- Kontrol mutu ketat: Terapkan HACCP, uji laboratorium berkala, dan batch control untuk menjaga konsistensi rasa dan keamanan.
Inovasi Rasa dan Teknik
- Eksplorasi infused spirits dengan rempah lokal (cengkeh, pala, kayu manis).
- Ciptakan varian limited edition dengan aging dalam tong kayu langka yang bisa mempengaruhi rasa..
- Gunakan teknik blending untuk menciptakan profil rasa kompleks seperti pada cognac atau whisky.
Desain dan Kemasan Premium
- Gunakan botol kaca tebal dengan desain khas Indonesia (ukiran batik, motif etnik).
- Sertakan label bernomor, segel lilin, dan kemasan kayu atau kulit.
- Tambahkan QR code yang mengarah ke video dokumenter tentang proses produksi dan cerita budaya yang bisa menambah pengalaman positif saat meminumnya.
Dari cara di atas terdapat satu catatan yang wajib produsen minuman beralkohol lokal perhatikan, karena hal itu terkait dengan kenaikan biaya produksi, karena dengan menanamkan positioning yang lebih relevan bukan hanya kesempatan masuk ke segmen pasar baru yang didapatkan.
Namun persaingan memang mengharuskan langkah-langkah yang berani, agar kedepannya produsen minuman beralkohol lokal dapat survive dan makin lekat menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.
Mulai penasaran dengan minuman beralkohol lokal? Tenang ada Balimoon yang menyediakan mulai dari whisky, gin, tequila, dan masih banyak lainnya. Tunggu apalagi yuk mulai pesan melalui telepon/Whatsapp di nomor +62 821-4510-9578 dan buktikan keunikan rasa minuman beralkohol buatan lokal.