Pada saat pandemi sektor pariwisata memang sangat terpukul karena aturan dibatasinya kegiatan berkerumun di tempat umum, yang ternyata hal itu malah meningkatkan demand salah satu produk pariwisata yaitu minuman beralkohol.
Peningkatan demand tersebut ternyata lebih berdampak ke industri minuman beralkohol lokal daripada merek luar negeri dikarenakan secara harga minuman beralkohol lokal jauh lebih murah yang membuatnya menjadi pilihan utama sebagai instrumen pereda stress.
Uniknya demand dari pandemi ini terus meningkat hingga tahun 2025 yang memberi setidaknya 3 alasan kepada industri minuman beralkohol dalam negeri memiliki harapan untuk dapat bersaing dengan merek luar negeri. Penasaran dengan apa 3 alasannya? Yuk simak pembahasannya di bawah ini.
1. Kabar dari Pasar Saham Indonesia: Sinyal Positif untuk Industri Minuman Beralkohol Lokal
Dalam beberapa tahun terakhir, industri minuman beralkohol mengalami perkembangan yang signifikan, dan ini tercermin dalam pergerakan pasar modal Indonesia. Salah satu sinyal positif adalah masuknya perusahaan minuman beralkohol lokal ke dalam radar investor, baik individu maupun institusional.
Tercatat ada dua perusahaan minuman beralkohol lokal yang melantai di BEI yaitu PT Jobubu Minahasa dan Hatten Bali.
IPO PT Jobubu Jarum Minahasa (produsen Cap Tikus 1978) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa minuman beralkohol lokal mulai mendapatkan pengakuan sebagai sektor yang menjanjikan dengan sumbangan angka penjualan: 80% dari Daebak Soju dan 20% dari Capt Tikus 1978.
Sedangkan untuk Hatten Bali sumbangan penjualannya adalah: 91,2% dari wine dan 8,8% dari Arak Bali.
Dari data penjualan ini dapat disimpulkan jika penjualan produk lokal dari produsen minuman beralkohol lokal masih memiliki peminat yang terus berkembang berbarengan dengan berkembangnya minat masyarakat pada minuman beralkohol ala luar negeri.
Walaupun memang harus diakui secara nilai penjualan kalah jauh, tapi terdapat perkembangan minat dari permintaan sudah bisa dinilai sebagai harapan untuk dapat terus bersaing dengan produk minuman ala luar negeri.
2. Potensi dari Peningkatan Angka Wisatawan Mancanegara
Pariwisata dan minuman beralkohol adalah dua sektor yang sangat erat hubungannya. Bali, sebagai contoh, menjadi bukti bahwa meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara selalu berbanding lurus dengan meningkatnya konsumsi minuman beralkohol.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mulai menunjukkan tren pemulihan pasca pandemi. Hal ini menjadi peluang emas bagi produsen minuman beralkohol lokal kepada konsumen global secara langsung.
Hal yang serupa juga dialami oleh wisatawan lokal sehingga produsen minuman beralkohol lokal dapat memproduksi minuman beralkohol sesuai dengan karakter pasar wisatawan seperti:
- Wisatawan mancanegara yang menyukai minuman beralkohol yang dikenal secara luas seperti: Whisky, gim, tequila, dan sebagainya.
- Wisatawan lokal yang lebih eksploratif karena bukan hanya menyukai merek lokal tapi juga terbuka dengan cita rasa minuman alkohol luar negeri.
Wisatawan modern kini tidak hanya mencari destinasi indah, tapi juga pengalaman otentik—termasuk kuliner dan minuman khas setempat sehingga membuat merek minuman lokal punya kemungkinan menjadi primadona.
Selain itu, keberadaan produk lokal yang legal, higienis, dan dipresentasikan dengan baik membuat wisatawan merasa aman dan percaya untuk mencoba yang nantinya tidak hanya meningkatkan volume penjualan selama musim liburan, keberhasilan memanfaatkan kenaikan pasar wisatawan juga bisa membuka peluang ekspor meningkat.
3. Memanfaatkan Berlimpahnya Wisatawan Lokal Sebagai Kelas Menengah
Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi. Salah satu dampaknya adalah munculnya kelas menengah baru yang lebih besar dari sebelumnya. Kelas menengah ini memiliki daya beli yang kuat dan perilaku konsumsi yang jauh lebih sadar akan kualitas, pengalaman, dan nilai budaya dari produk yang mereka beli.
Data dari McKinsey dan World Bank menunjukkan bahwa konsumen kelas menengah Indonesia tidak lagi sekedar membeli barang untuk kebutuhan dasar, tetapi juga untuk menunjang gaya hidup. Termasuk di dalamnya adalah eksplorasi terhadap minuman beralkohol lokal yang unik, berkualitas, dan memiliki nilai estetika dan cerita.
Inilah pasar yang sangat potensial bagi produsen lokal. Dengan positioning sebagai merek lokal yang bukan hanya modern tapi tetap mengangkat nilai budaya seperti yang dimiliki Balimoon.
Produk seperti gin lokal, whiskey khas Bali, hingga versi tropikal dari tequila dan rum kini menjadi simbol gaya hidup baru di kalangan profesional muda. Mereka tidak hanya mencari rasa, tapi juga cerita, identitas, dan nilai lokal dalam produk yang mereka konsumsi.
Dengan pertumbuhan kelas menengah yang diperkirakan terus meningkat membuat industri minuman beralkohol lokal punya peluang untuk mengamankan basis konsumen loyal yang luas dan kuat.
Jika kamu tertarik dengan produk minuman beralkohol lokal maka sekaranglah waktunya untuk mendukung dan merayakan produk lokal yang membawa kualitas dunia dan identitas Indonesia dalam satu botol.
Untuk informasi lebih lanjut atau kolaborasi produk, silakan hubungi Balimoon melalui WhatsApp di +62 821-4510-9578.