Sejarah Minuman Beralkohol Khas Bali: Dari yang Tradisional Hingga Modern - Balimoon Indonesia
Understanding Alcoholic Beverage Culture in Indonesia — and the Role of Bali’s Traditional Arak

Sejarah Minuman Beralkohol Khas Bali: Dari yang Tradisional Hingga Modern

Jika bicara mengenai citra minuman beralkohol di Indonesia entah mengapa yang tersimpan di kepala penulis adalah lagu Oplosan yang dinyanyikan oleh Wiwik Sagita yang rilis 13 tahun lalu.

Lagu tersebut fokus mengkritik budaya minum minuman keras di Indonesia khususnya wilayah Jawa, Wiwik di dalam lagu itu tiga kali menyebutkan kata “oplosan” yang bukan saja menekankan bahaya aktivitas minum minuman keras tapi juga menjelaskan dampak buruk yang berlipat ganda jika melakukan pengoplosan pada minuman keras yang diminum.

Namun berbicara mengenai minuman keras di Indonesia dari sudut pandang yang lain sangat identik dengan budaya lokal, apakah yang disampaikan Wiwik Sagita salah? Atau terbersit pesan lain dari lagu tersebut mengenai minuman keras? Jika ingin mengetahui jawabannya maka kamu wajib untuk membaca tulisan ini hingga selesai! Yuk tunggu apalagi!

Mengenal Budaya Minuman Beralkohol di Indonesia

Agar lebih mudah mengenal budaya minuman beralkohol di Indonesia maka penjelasan ini akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu: era kerajaan, era kolonial, dan era modern. 

Tunggu apalagi yuk simak pembahasan lengkapnya!

  • Era Kerajaan

Apakah kamu pernah mendengar nama tuak atau nipah? Dua nama ini adalah minuman keras yang sudah ada sejak Indonesia masih dikenal sebagai Nusantara.

Dalam catatan Kakawinan Ramayana dan Adiparwa dijelaskan masyarakat Jawa kuno mengonsumsi minuman beralkohol di dalam ritual-ritual keagamaan dan perayaan, minuman beralkohol yang dikonsumsi bernama mastawa, pana, dan sajeng yang memiliki umur lebih tua daripada tuak dan nipah.

  • Era Kolonial

Pada era ini kalangan elit Jawa lah yang diuntungkan dari kesempatan pertama kali mencoba minuman keras yang diproduksi di luar negeri yang dibawa oleh kapal-kapal kolonial pada abad ke 17.

Berkembangnya kebudayaan Islam di Indonesia membawa perubahan yang lumayan signifikan bagi perkembangan minuman keras karena peredarannya yang mulai dibatasi.

  • Era Modern

Namun dengan berkembangnya teknologi dan informasi, seiring berjalannya waktu industri minuman keras mulai menyesuaikan diri dengan aturan yang ada yang membawa industri ini tetap eksis hingga kini.

Nah setelah memahami periodisasi minuman keras di Indonesia yang terbagi jadi tiga, sekarang kita akan mendalami salah satu minuman lokal yang sudah melegenda di Indonesia yaitu Arak Bali, langsung saja simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Arak Bali, Representasi Budaya Bali Dalam Bentuk Minuman Beralkohol

Setelah mengetahui sejarah perkembangan minuman keras di Indonesia, kali ini kita akan lebih memfokuskan pembahasan mengenai Arak Bali yang sejarah perkembangannya juga mencangkup tiga periode di atas.

Sebagai minuman alkohol tradisional yang berhasil bertahan dari berbagai macam gempuran yang pernah terjadi membuat Arak Bali memiliki nilai kesakralan tersendiri, bukan hanya karena minuman ini dikonsumsi di berbagai upacara keagamaan tapi lebih karena kiprah eksistensinya dalam membantu membangun citra Bali.

Kontribusi itulah yang membuat gubernur Bali I Wayan Koster menetapkan tanggal 29 Januari sebagai Hari Arak Bali dan membuat ajakan kepada warga Bali untuk meminum satu seloki sehari.

Upaya ini dilakukan untuk melindungi nilai-nilai yang terkandung dalam Arak Bali yang kita tahu minuman ini bukan sekedar minuman alkohol, melainkan juga sebagai representasi budaya dan menciptakan lingkungan perekonomian yang berkelanjutan bagi pebisnis minuman beralkohol.

Seorang ahli toksikologi forensik dari Universitas Udayana bernama I Made Agus Gelgel Wirasuta mengutarakan bahwa Arak Bali dapat menjadi Dewa Ye, Bhuta Ye yang bermakna memiliki sifat positif jika dikonsumsi secara tepat dan kebalikannya jika berlebihan.

Selain itu Guru Besar yang memiliki panggilan Profesor Arak ini juga menambahkan data bahwa 80% peredaran minuman alkohol ada di Bali dengan total nilai pajak menyentuh angka 15 triliun per tahun, tapi hanya 0,9% produk buatan Bali yang ada di pasaran,

“Potensi pasar sebesar ini harus bisa menyumbang porsi yang lebih bagi perekonomian lokal dan bukan lari ke luar negeri” tegas Profesor Arak.

Sejarah Minuman Beralkohol Khas Bali: Dari yang Tradisional Hingga Modern

Tidak mengherankan jika Profesor Arak sangat vokal menyuarakan keresahannya, karena minuman beralkohol khas Bali punya nilai lebih dari sekedar minuman keras.

Di dalam buku yang berjudul “Budaya Minum di Indonesia” dijelaskan bahwa Arak Bali khususnya dan minuman beralkohol umumnya memiliki sejarah setua peradaban di Nusantara.

Peredarannya ada dari Aceh hingga Papua, kondisi ini membuat minuman beralkohol memiliki tiga fungsi di masyarakat Indonesia menurut penulis buku Budaya Minum di Indonesia Raymond Michael Menot yaitu: 1. Fungsi ritual, 2. Fungsi sosial, 3. Fungsi adaptasi.

Tiga fungsi itulah yang membuat minuman beralkohol khas Bali bisa tetap bertahan dan mempertahankan pengaruhnya hingga saat ini.

Jika setelah membaca tulisan ini kamu penasaran dan ingin mencoba minuman beralkohol khas Bali, maka kamu bisa mulai membelinya di Balimoon.

Balimoon membuat minuman alkohol khas Bali mulai dari gin, whisky, rum, vodka, dan banyak lagi yang dalam proses pembuatannya bnyak menggunakan hasil bumi dari tanah Bali.

Maka jangan ragu lagi, segera lakukan pemesanan melalui: telepon/Whatsapp di nomor +62 821-4510-9578. 

Nah jika kamu juga sedang mencari minuman alkohol yang cocok dengan suasana maka kamu harus membaca lima rekomendasi minuman yang cocok dengan suasana, siapa tahu ada yang cocok dengan suasana yang ingin kamu ciptakan. Dua diantara rekomendasi tersebut buatan Bali loh!